Minggu, 09 Januari 2011

fisiologi pada masa nifas terhadap pencernaan


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masa nifas merupakan suatu keadaan fisiologis dimana berlangsungnya pemulihan kembali yang dimulai dari persalinan selesai sampai kembali seperti sebelum hamil. Ini merupakan masa yang sulit bagi ibu yang baru bersalin. Sebagian besar organ-organ tubuh ibu mengalami involusi dan penyesuaian dari masa kehamilan, bersalin dan kesiapan untuk menyusui.
Beberapa hal yang berpengaruh pada masa nifas adalah penyesuaian sistem pencernaan dan sistem perkemihan (urinarius). Perubahan yang terjadi fisiologis jika masih dalam keadaan wajar. Patologis yang terjadi pada kedua sistem ini sangat berpengaruh berlangsungnya masa nifas. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis ibu dan bayi.

B.     Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a)      Mengetahui perubahan fisiologis masa nifas pada sistem pencernaan dan sistem urinarius (perkemihan).
b)      Mengetahui apa saja kelainan yang terjadi pada masa nifas khususnya dalam sistem pencernaan dan sistem perkemihan.
c)      Mengetahui peranan bidan dalam masa nifas khususnya asuhan yang diberikan dalam perubahan fisiologi masa nifas pada sistem pencernaan dan sistem perkemihan.




BAB II
PEMBAHASAN

A.     Fisiologis Masa Nifas
Aktivitas saluran cerna dikurangi atau kembali ke kondisi semula setelah menjalani adaptasi pada masa kehamilan. Beberapa perubahan tersebut antara lain:
1.      Kurangnya tekanan uterus pada usus dan lambung
2.      Berkurangnya nyeri epigastrium akibat makanan yang sebagian masuk dalam esofagus bagian bawah.
Pada jam-jam pertama pasca persalinan, ibu bersalin sangat tidak berdaya.pemenuhan nutrisi ibu belum dapat dilakukan melalui oral, naum 2-3 jam setelah bersalin, ibu dapat memenuhi nutrisinya dengan minum dan makan seperti biasa, bila ingin. Saluran cerna ibu pada jam-jam pertama pasca persalinan membutuhkan waktu untuk kembali pada fungsi normalnya. Faktor fisiologis yang sangat potensial mempengaruhi aktivitas isi perut pasca persalinan adalah psikologis ibu.
Isi perut ibu tidak akan bekerja secara efektif jika terlalu mencemaskannya. Hal yang ditakutkan ibu akibat dari pemenuhan nutrisinya adalah buang air besar. Hal ini tidak perlu dicemaskan, karena tidak akan menambah perlukaan atau membuka jahitan.
Beberapa rasa takut psikologis yang tidak mendasar dialami ibu pasca persalinan adalah sebagai berikut :
1.      Hal itu akan membuka jahitan
2.      Takut membuat ambeien semakin parah
3.      Rasa malu yang wajar karena kurangnya privasi di rumah sakit
4.      Takanan untuk “melakukan” yang sering membuat perbuatan ibu sendiri semakin sulit.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut :
1.      Jangan cemas : Isi perut tidak akan bekerja secara efektif jika anda terlalu mencemaskan acara BAB.
2.      Mintalah makanan kasar seperti gandum murni, sayur serta buah segar.
3.      Terus konsumsi cairan : air putih atau jus buah
4.      Beranjak dari ranjang : Tubuh yang tidak aktif akan membuat pergerakan perut ikut tidak aktif. Ibu dapat berjalan-jalan sendiri sepanjang koridor, melihat halaman dan lain-lain.
5.      Jangan ditahan : Menahan BAB tidak akan membuka jahitan, tetapi hal itu akan menimbulkan ambeien, ibu mungkin bisa nyaman dengan kompres panas/dingin atau juga dengan memasukkan obat lewat dubur.
6.      Gunakan pelunak tinja : Banyak rumah sakit memberikan pelunak tinja dan obat mencahar kepada ibu sesudah melahirkan. Buang air besar pertama mungkin dilewati dengan rasa sangat tidak nyaman. Akan tetapi, setelah tinja melunak dan menjadi lunak dan semakin rutin, rasa tidak nayaman itu akan berkurang dan yang akhirnya menghilang.

Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan mempengaruhi konstipasi. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong, selain itu mempengaruhi peristaltik usus. Defekasi biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB, maka sebaiknya dengan pemberian obat-obatan.
Dalam melahirkan anak, ibu memerlukan tenaga extra sehingga persediaan tenaga akan dihabiskan dalam persalinan. Pergantian tenaga terjadi apabila cukup zat-zat makanan yang diperlukan sehingga ada metabolisme yang lancar. Nutrisi ibu harus sangat mendapat perhatian karena makanan yang baik mempercepat penyembuhan ibu, yang juga sangat mempengaruhi susunan air susu.pada masa ini ibu mendapatkan penambahan nutrisi ± 500 dari masa hamil.
B.     Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
1.      Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
2.      Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3.      Pengosongan Usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.




Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
  1. Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
  2. Pemberian cairan yang cukup.
  3. Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
  4. Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
  5. Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.

C.     Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan
Berkemih tidak mudah bagi sebagian besar wanita dalam 24 jam pertama pasca persalinan. Beberapa wanita merasa tidak ingin kencing sama sekali, yang lain merasa ingin kencing tetapi tidak bisa melakukannya, dan mungkin ada yang lain masih bisa kencing tetapi disertai dengan rasa nyeri dan terbakar.
Beberapa alasan mengapa fungsi kandung kemih menjadi kerja keras pasca persalinan, antara lain :
1.      Kapasitas menahan kandung kemih meningkat karena tiba-tiba kandung kemih punya banyak ruang untuk mengembang, sehingga kebutuhan untuk berkemih menjadi jarang.
2.      Kandung kemih mungkin mengalami trauma atau memar selama proses persalinan karena tekanan yang ditimbulkan oleh fetus dan menjadi lumpuh sementara.
3.      Obat/anestesi bisa mengurangi kepekaan kandung kemih atau kewaspadaan ibu memahami sinyal tersebut.
4.      Sensitivitas daerah yang mengalami episolotomi bisa menimbulkan rasa terbakar atau nyeri saat berkemih.
5.      Faktor psikologis
Pengosongan kandung kemih sangat penting untuk menghindari infeksi saluran kencing.hilangnya kekencangan otot di kandung kemih karena terlalu tegang (kandung kemih yang terlalu penuh) bisa menghalangi turunnya rahim dengan baik. Miksi disebut normal bila dapat buang air kecil spontan 3-4 jam. Ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak maka dilakukan tindakan dengan :
1.      Pastikan ibu mendapat banyak cairan
2.      Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien
3.      Kompres air hangat di atas simfisis
4.      Sambil sik bath, ibu disuruh kencing
Bila hal tersebut tidak berhasil, maka dilakukan kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman dan resiko saluran kencing tinggi. Oleh sebab itu, kateterisasi tidak dilakukan sebelum lewat 6-8 jam postpartum.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai adanya infeksi saluran kencing adalah:
1.      Setelah 24 jam postpartum, berkemih masih sulit
2.      Jumlah urin yang keluar sedikit dalam beberapa hari berikutnya
3.      Rasa nyeri dan/atau terbakar saat berkemih terus berlanjut bahkan setelah sensifitas episiotomi atau perbaikan luka koyak sudah berkurang.
4.      Frekuensi dan keinginan untuk kencing yang hanya sedikit.
5.      Demam sekitar 38°C – 41°C
6.      Sakit pinggang ringan pada satu atau kedua sisi.

Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk menanganinya adalah :
1.      Ibu meperoleh minum atau cairan extra lebih banyak.
2.      Untuk mengurangi rasa nyeri/terbakar, ibu dapat dianjurkan buang air kecil dengan cara berdiri.
3.      Jika infeksi sudah dipastikan, rujuk, dokter akan memberikan perawatan antibiotik khusus untuk organisme penyebab infeksi.
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.




BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Awal dari postpartum, ibu mengalami banyak perubahan yang pada dasarnya merupakan proses fisiologis. Pada sistem pencernaan, awalnya ibu akan mengalami konstipasi yang berlanjut 2-3 hari. Pemenuhan nutrisi ibu bertambah dari masa kehamilan, yang penting untuk pemulihan dan produksi ASI.
Pada sistem perkemihan, tetap dipastikan kandung kemih dalam keadaan kosong untuk mencegah terjadinya infeksi. Diupayakan ibu dapat berkemih sendiri di kamar mandi ataupun menggunakan pispot.

B.     Saran
Dianjurkan kepada ibu untuk tidak terlalu cemas dan takut akibat dari persalinan yang menimbulkan banyak perubahan dan penyesuaian baru dalam tubuh ibu. Dukungan keluarga sangat penting untuk memotivasi, mempercepat pemulihan dan mencegah terjadinya depresi pada ibu.


DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm:80)

Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.



 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Hadirat Illahi Robbi karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan sepanjang jaman Rasullulah SAW. Kami ucapkan juga terimakasih kepada dosen yang membimbing kami dam pembuatan makalah ini.

Makalah ini membahas dan menjelaskan secara sederhana tentang “Perubahan Sistem Pencernaan Pada Masa Nifas”

Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahannya, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran yang bersifat membangun dari semua pihak dan semoga makalah ini bermanfaat.


Pinrang, Januari 2011


Penyusun


i
 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... .... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... .... ii

BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang...................................................................................... .... 1
B.     Tujuan................................................................................................... .... 1

BAB II PEMBAHASAN
A.       Fisiologis Masa Nifas............................................................................. .... 2
B.        Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan...................... .... 4
C.       Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan...................... .... 5

BAB III PENUTUP
A.      Kesimpulan............................................................................................ .... 8
B.      Saran..................................................................................................... .... 8

DAFTAR PUSTAKA


ii
 
 

kanker seviks


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
.
Kanker serviks (kanker leher rahim) adalah tumbuhnya sel-sel tidak normal pada leher rahim. Kanker serviks merupakan kanker yang tersering dijumpai di Indonesia baik diantara kanker pada perempuan dan pada semua jenis kanker, kejadiannya hampir 27% diantara penyakit kanker di Indonesia.
Diantara tumor ganas ginekologik, kanker serviks uterus masih menduduki peringkat pertama di Indonesia. Selama kurun waktu 5 tahun (1975-1979) di RSUGM/RSUP Sardjito 179 diantara 263 kasus (68,1%). Soeripto dkk menemukan frekuensi relatif karsinoma serviks di Propinsi D.I.Y 25,7% dalam kurun 3 tahun dan 20,0% dalam kurun 2 tahun diantara 5 jenis kanker terbanyak pada wanita sebagai peringkat pertama. Umur penderita 30-60 tahun, terbanyak antara 45-50 tahun. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasif memakan waktu sekitar 10 tahun. Hanya 9% dari wanita berusia < 35 tahun menunjukan kanker serviks yang invasif pada saat didiagnosa, sedangkan 53% dari KIS terdapat pada wanita dibawah usia 35 tahun.

1.2.   Tujuan
·        Memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
·        Agar mahasiswa mengetahui pengertian kanker servik
·        Agar mahasiswa mengetahui faktor risiko kanker servik
·        Agar mahasiswa mengetahui tanda-tanda pada fase pra kanker
·        Agar mahasiswa mengetahui pencegahan dan pengobatan untuk kanker servik


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.   Pengertian Kanker servik
Kanker servik adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daearah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak di antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina).
Layaknya semua kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker.

2.2.   Faktor Risiko
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks adalah :
1.      Hubungan Seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena servik.
2.      Berganti-ganti pasangan seksual.
Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan kanker servik, penis dan vulva.


3.      Merokok
Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kankere servik dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.
4.      Defisiensi zat gizi
Defisiensi asam folat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang serta mungkin juga meningkatkan resiko terjadinya kanker servik pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retionol ( vitamin A)
5.      Trauma
6.      Kronis pada Servik seperti persalinan, infeksi dan iritasi menahun

2.3.   Tanda-tanda pada fase pra kanker
1.      Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina
2.      Pendarahan setelah senggama yang kemudian berlanjut menjadi pendarahan
3.      Timbulnya pendarahan setelah masa menopause
4.      dapat bercampur dengan darah.
5.      Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis.
6.      Timbul nyeri panggul (velvis) atau diperut bagaian bawah bila ada radang panggul. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan
7.      Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, bengkak kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rektum).

2.4.   Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1.         Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
2.         Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3.         Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4.         Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
5.         Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6.         Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
7.         Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.


2.5.   Klasifikasi pertumbuhan sel kanker serviks
Mikroskopis
1.      Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermi hampir tdk dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
2.      Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
3.      Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
4.      Stadium karsinoma invasive
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.
5.      Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.

2.6.   Pemeriksaan diagnostic
1.      Sitologi/Pap Smear
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2.      Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3.      Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.
4.      Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali
5.      Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
6.      Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

2.7.   Pencegahan
1.      Penggunaan kondom saat berhubungan seks dapat membantu pencegahan penularan penyakit infeksi menular seperti Gonorrhoe, chlamydia, sifilis dan HIV /AIDS
2.      Menghindari merokok, meningkatkan derajat kesehatan secra umum dan mencegah CIN (cervical intraepitelial neoplasia) dan kanker leher rahim
3.      Menghindari pencucian vagina Sering kita melakukan pencucian vagina dengan obat-obatan antiseptik tertentu. Alasannya beragam, entah untuk "kosmetik" atau kesehatan. Padahal, kebiasaan mencuci vagina bisa menimbulkan kanker serviks, baik obat cuci vagina antiseptik maupun deodoran. "Douching atau cuci vagina menyebabkan iritasi di serviks

2.8.   Pengobatan
Seperti pada kejadian penyakit yang lain, jika perubahan awal dapat dideteksi seawal mungkin, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Jika perubahan awal telah diketahui pengobatan yang umum diberikan adalah dengan:
1.      Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
2.      Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
3.      Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal







BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Mendiagnosis tumor ganas pada serviks uterus tidaklah sulit, apalagi bila tingkatannya sudah agak lanjut. Dengan memperhatikan perubahan diplastik dari epitel servik, penanganan yang sederhana tetapi benar akan menghindarkan wanita dari kanker serviks. Bilamana deteksi dini dapat diupayakan, maka angka kematian wanita karena kanker serviks pastinya akan berkurang
.
3.2. Saran
·        Untuk melakukan skrining kanker serviks, jangan sampai menunggu adanya keluhan.
·        Datanglah ke tempat periksa untuk pemeriksaan PAP SMEAR
·        Jika ditemukan kelainan pra kanker ikutilah pesan petugas kesehatan/ dokter. Apabila perlu pengobatan, jangan ditunda.


DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka, 2008.
Verralls, Sylvia. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan. Jakarta: EGC, 1997.